Senin, 21 Juni 2010

Puisi Untuk Ibu

Dalam Rumah Bapaku

Dalam rumah Bapaku bayaklah tempat
Terdengar suara Yesus yang merdu
Ia pergi ke negeri terang dan baka
Untuk menyediakan tempat bagimu

Reff :
Jangan tolak kasih Tuhanmu setia
Agar kaupun boleh masuk trang mulia
Dalam rumah Bapaku banyaklah tempat
Bila percaya kau diterimaNya




Untuk Ibu tercinta

Ibu ...
Sebutan yang sangat berarti dalam hidup seorang anak ... dan terasa lebih berarti apabila seorang Ibu tidak lagi ada disamping kita … karena waktu pertemuan telah terbatasi oleh ketentuan Allah dan tidak satu halpun yang dapat menggantikannya.

Ibu ...
Seorang wanita hebat yang tiada tandingannya ... bukan terlihat dari tangannya yang halus … justru dari tangan kasarnya banyak tercipta keajaiban. Mendidik 9 orang anak bukan perkara yang mudah, dengan peluh yang menetes dan air mata yang menggenang dipelupuk mata, ibu mendidiknya ke 9 anak tersayang dengan penuh cinta.

Ibu ...
Seorang wanita yang sangat tangguh ... bukan terlihat dari wajahnya yang halus, justru kerutan diwajahnya menandakan bahwa dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi justru memikirkan bagaimana keluarganya dapat bahagia dengan cucuran kasihnya yang tiada henti.

Ibu ...
Seorang wanita yang sangat penyabar ... bukan terlihat dari rambutnya yang indah terurai, justru dari rambut yang kasar, beruban menandakan bahwa dunia terasa hampa apabila ibu tak dapat memberikan yang terbaik untuk anak – anak tercinta.

Oh Ibu ...
Betapa banyak kebaikan yang telah engkau tanam
Begitu banyak cinta kasih yang telah kau tebar
Begitu banyak pelajaran yang kau berikan
Kepergianmu begitu menyesakkan hati.

Bu ...
Air mata ini berlinang menatap semua bagian rumah dan setiap tempat yang engkau tapaki setiap hari. Betapa kami merindukanmu ... betapa kami menginginkan engkau ada ….. Agar kami dapat mengatakan betapa kami bangga dan mencintaimu.

Bu ...
Ketika kau berada di ICU Rumah sakit Telogorejo Semarang, ratusan sahabat menjengukmu dan mengirimkan doa tulus agar kau sehat kembali ... Ribuan bahkan jutaan bait doa dikirimkan untuk dirimu ... Walau hati kecil berbicara Engkau tetap akan kembali padaNya.

Ibu ...
Sekarang tinggal kenangan indah tentang dirimu ... Ibu yang selalu tersenyum bahkan dikala susah ... Ibu yang yang selalu repot memikirkan orang lain ... Ibu yang selalu memikirkan cara membahagiakan orang lain dari pada dirinya sendiri ... Ibu yang tidak pernah meminta ... Ibu yang tidak pernah menghitung apapun kepada anak – anaknya.

Ibu ...
Aku dan kakak – kakak tak pernah menganggap engkau tiada ... Karena engkau selalu ada dihati kami. Ibu ... Kami tak pernah berpikir engkau tertidur dalam tanah yang terdapat nisan tertulis namamu ... Karena kebaikanmu selalu ada bersama kami ... Ibu ... Kami tak pernah mau menganggap engkau pergi karena engkau selalu bersama kami.

Ibu ...
Sesungguhnya aku ingin engkau mengetahui bahwa kami mencintaimu ... Betapa kami kehilanganmu ... Betapa kami merindukanmu ... Tiada air mata yang deras mengucur kecuali saat engkau tak ada bersama kami lagi. Tiada luka hati yang paling sakit kecuali menerima kenyataan bahwa kami tak bisa lagi mendekapmu. Tiada lagi kesedihan yang paling mendalam kecuali karena engkau tak tersenyum lagi pada kami.

Ibu ...
Aku ingin engkau tahu bahwa kami mengucapkan banyak terima kasih atas semua kebaikan yang telah Ibu tanam.

Ibu ...
Kami ikhlas ... Kami ikhlas engkau pergi kembali padaNya ...
Cinta anak, menantu, cucu, cicit tak sebanding dengan cinta Allah ... Maka kami ikhlas bu ... Ikhlas bila engkau bersama Allah tercinta ...

Selamat jalan Ibuku tercinta ...
Maafkan kami tak bisa membahagiakanmu ...
Maafkan kami bila tak memberikan yang terbaik untukmu ...
Maafkan kami bila kami terlalu banyak membuat luka hatimu ...
Tak henti doa akan kami persembahkan untuk dirimu ...
Sebagai bakti kami untukmu Ibuku tercinta ...

Selasa, 15 September 2009

BERSAHABAT ATAU MENGUBUR MASA LALU?

Jika pada suatu saat mantan kekasih menghubungi anda dan mengajak bertemu, apakah anda akan menerima atau menolaknya?. Jika masa lalu hadir di masa kini, bagaimana cara menyikapinya?.

Masa lalu bagaimanapun adalah bagian dari hidup seseorang. “Kita tidak bisa menghapusnya meski kita ingin sekalipun”. Kata Tia seorang pekerja seni di Jakarta. Dan saat ini Tia memilih menutup rapat – rapat masa lalunya, ia tidak ingin bersahabat dengan mantan kekasihnya.

Pendapat sama dikatakan David seorang marketing yang putus 10 tahun yang lalu karena perbedaan agama tetapi sekarang bertemu lagi dalam urusan bisnis. Pacaran dengan Santi membuat David menemukan dunia yang berbeda. Selama ini hubungan mereka putus nyambung karena masalah beda agama. Aku mencintai Santi tetapi aku enggakmungkin menikahinya.

Perceraian membuat Siska dan suaminya jadi bersahabat karena Siska merasa telah mengecewakan orang tua, mantan mertua, anak dan terutama Tuhan. “Saya jadi merasa lebih dekat sama Tuhan, saya mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan”. Mungkin aku dulu terlalu egois, tidak dewasa dan terlalu memikirkan hal – hal duniawi. Dan anak satu hal yang membuat kami masih dekat.

Seratus orang mungkin akan menempuh cara yang berbeda untuk menyingkapi masa lalunya. Seseorang mungkin memilih untuk menutup rapat – rapat masa lalunya, ia sama sekali tidak mau lagi berhubungan dengan mantan suami/istri, seseorang yang lain mungkin justru bersahabat dengan mantan kekasihnya dan ada pula yang mengambil jalan tengah tetap berteman tetapi secukupnya saja.

Menurut saya, bagaimanapun masa lalu adalah masa yang sudah berlalu. Namun masa lalu itu perlu dibuka kepada pasangan kita yang sekarang. “Self disclosure” itu perlu. Jangan menimbulkan masalah jika tidak jujur.

Tidak perlu semua hal di masa lalu diceritakan, yang penting – penting saja untuk diketahui.

Namun ada juga orang yang tidak mau tahu dengan masa lalu pasangannya. Jika seperti ini ya, lebih baik tutup rapat masa lalu dan tidak perlu diceritakan. Saat ini banyak terjadi perselingkuhan yang factor penyebabnya antara lain karena adanya kesempatan dan nilai – nilai yang berlaku, soal nilai – nilai ini misalnya orang tidak malu lagi untuk berselingkuh bahkan bangga.

Hubungan dengan masa lalu sebaiknya diputus apalagi jika pasangan kita tidak setuju. “Kan enggak penting – penting amat bersahabat dengan mantan kekasih, kalaupun ada urusan dalam pekerjaan, bisnis sebaiknya secukupnya saja jangan sampai membuat hubungan dengan kekasih kita berantakan, toh kitapun harus menghargai pasangan kita”.

Jika sekali – sekali menyapa mungkin tidak apa – apa tetapi jangan sampai curhat terhadap mantan kekasih atau mantan suami/istri. Jangan nambahin masalah deh.

Minggu, 13 September 2009

PILIHAN

Hidup itu soal memilih. Tiap hari, bahkan tiap saat kita harus membuat keputusan. Mau pakai sepatu yang hitam atau yang coklat, mau lewat jalan tikus atau jalan besar, mau makan di rumah atau di luar dan dimana, yang dekat atau yang jauh, yang murah atau yang mahal, dst ….. dst ….. Selama 24 jam dalam satu hari, hidup kita dipenuhi pilihan. Bahkan kita sudah disodori pilihan sejak jam alaram berbunyi di pagi hari, mau langsung bangun, menggeliat dan bermalas – malasan sebentar atau memencet tombol snooze dan meneruskan tidur sebentar lagi?.

Nely, teman kosku dullu, pernah bilang kalau hidup di kota besar seperti Jakarta itu, bikin kita jadi enggak punya banyak pilihan. Kita terpaksa ikut arus dan enggak punya kekuasaan untuk menentukan apa yang sebenarnya kita mau. Pilih ini salah, pilih itu salah. Mau naik mobil, bensin mahal, mau naik taksi lebih mahal lagi, mau naik bis, banyak copet dan tukang hipnotis. Mau jalan kaki, trotoar saja dijadikan tempat jualan kaki lima dan lajur tambahan illegal buat motor. Jadi enggak punya pilihan kan?. Hmm, pengertian yang agak salah tuh. Sebab kalau mengutip kalimat Miranda Priestley, si bos kejam di film The Devil Wears Prada, seringkali kita memakai alas an “enggak punya pilihan” , padahal sebenarnya kita sendiri yang memilih untuk enggak punya pilihan. See?. Dengan memutuskan ikut arus, kita sudah membuat pilihan!.

Intinya pilihan itu selalu ada. Jadi mestinya kalau kita sudah terbiasa bertemu dengan pilihan – pilihan, kita juga sudah terlatih untuk membuat keputusan kan?. Well, not really. Selalu saja ada kesulitan dalam membuat keputusan. Dari mulai keputusan kecil seperti memilih baju yang mana yang akan dibeli ( sehingga membutuhkan waktu berjam – jam di dalam mall ), sampai keputusan besar seperti memilih pasangan hidup. Pusing!.

Jujur saja, saya termasuk orang yang selalu kesulitan dalam mengambil keputusan. Kalau kata caca, sahabat saya, saya menderita sindroma anak bungsu karena terbiasa dibuatkan keputusan oleh kakak – kakakku, tapi menurutku kalau dipikir –pikir anak tengah juga mengalami kejepit di antara kakak dan adik, sehingga terbiasa mengalah pada keinginan sang kakak atau si adik lalu yang merasa anak sulung akan bilang, kalau kebanyakan keputusan mereka pun ditentukan berdasarkan rasa tanggung jawab sebagai anak tertua, bukan karena keinginan sendiri. Nah lho!. Jadi lebih baik teori urutan lahir itu kita kesampingkan dulu saja. Terlalu relative dan stereotip, karena tergantung pola asuh orangtua masing – masing.

Teman saya vera bercerita ada 2 orang pria mendekati dia, Keduanya katanya memenuhi kriteria yang dia gariskan dalam memilih pasangan hidup sehingga membuat dia bingung menentukan pilihan. Dia akhirnya memutuskan tidak memilih, melainkan berjalan dengan kedua – duanya saja untuk sementara waktu. Itulah yang menurut temenku caca sebagai menunda – nunda kebahagiaan. Tetapi akhirnya kata vera, dia lambat laun bisa melihat kalau pria yang pertama ternyata terlalu childish dan yang kedua terlalu metroseksual. Keputusan tidak memilih pun menyelamatkan dari salah memilih. Dan kata vera lagi dengan menunda dia jadi tahu kalau ternyata diantara pilihan – pilihan yang terbentang di depan dia,enggak ada yang pas. Dengan menunda jadi tahu apakah ada opsi yang lain atau tidak.

Tapi menurutku, ada banyak juga keputusan penting yang kita buat dalam hitungan menit, tidak bisa ditunda, tidak bisa dipikir – piker terlalu lama karena benar juga kata caca menunda – nunda kebahagiaan.

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa dibutuhkan kematangan kita pada saat memutuskan dan kesiapan kita menjalani konsekuensi apapun yang jadi buntutnya. Jadi disaat kita mengambil keputusan, kita sudah yakin dengan apa yang kita jalani. Kita sudah mempertimbangkan dan memperhitungkan baik buruknya, untung – ruginya. No turning back.