Jika pada suatu saat mantan kekasih menghubungi anda dan mengajak bertemu, apakah anda akan menerima atau menolaknya?. Jika masa lalu hadir di masa kini, bagaimana cara menyikapinya?.
Masa lalu bagaimanapun adalah bagian dari hidup seseorang. “Kita tidak bisa menghapusnya meski kita ingin sekalipun”. Kata Tia seorang pekerja seni di Jakarta. Dan saat ini Tia memilih menutup rapat – rapat masa lalunya, ia tidak ingin bersahabat dengan mantan kekasihnya.
Pendapat sama dikatakan David seorang marketing yang putus 10 tahun yang lalu karena perbedaan agama tetapi sekarang bertemu lagi dalam urusan bisnis. Pacaran dengan Santi membuat David menemukan dunia yang berbeda. Selama ini hubungan mereka putus nyambung karena masalah beda agama. Aku mencintai Santi tetapi aku enggakmungkin menikahinya.
Perceraian membuat Siska dan suaminya jadi bersahabat karena Siska merasa telah mengecewakan orang tua, mantan mertua, anak dan terutama Tuhan. “Saya jadi merasa lebih dekat sama Tuhan, saya mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan”. Mungkin aku dulu terlalu egois, tidak dewasa dan terlalu memikirkan hal – hal duniawi. Dan anak satu hal yang membuat kami masih dekat.
Seratus orang mungkin akan menempuh cara yang berbeda untuk menyingkapi masa lalunya. Seseorang mungkin memilih untuk menutup rapat – rapat masa lalunya, ia sama sekali tidak mau lagi berhubungan dengan mantan suami/istri, seseorang yang lain mungkin justru bersahabat dengan mantan kekasihnya dan ada pula yang mengambil jalan tengah tetap berteman tetapi secukupnya saja.
Menurut saya, bagaimanapun masa lalu adalah masa yang sudah berlalu. Namun masa lalu itu perlu dibuka kepada pasangan kita yang sekarang. “Self disclosure” itu perlu. Jangan menimbulkan masalah jika tidak jujur.
Tidak perlu semua hal di masa lalu diceritakan, yang penting – penting saja untuk diketahui.
Namun ada juga orang yang tidak mau tahu dengan masa lalu pasangannya. Jika seperti ini ya, lebih baik tutup rapat masa lalu dan tidak perlu diceritakan. Saat ini banyak terjadi perselingkuhan yang factor penyebabnya antara lain karena adanya kesempatan dan nilai – nilai yang berlaku, soal nilai – nilai ini misalnya orang tidak malu lagi untuk berselingkuh bahkan bangga.
Hubungan dengan masa lalu sebaiknya diputus apalagi jika pasangan kita tidak setuju. “Kan enggak penting – penting amat bersahabat dengan mantan kekasih, kalaupun ada urusan dalam pekerjaan, bisnis sebaiknya secukupnya saja jangan sampai membuat hubungan dengan kekasih kita berantakan, toh kitapun harus menghargai pasangan kita”.
Jika sekali – sekali menyapa mungkin tidak apa – apa tetapi jangan sampai curhat terhadap mantan kekasih atau mantan suami/istri. Jangan nambahin masalah deh.
Selasa, 15 September 2009
Minggu, 13 September 2009
PILIHAN
Hidup itu soal memilih. Tiap hari, bahkan tiap saat kita harus membuat keputusan. Mau pakai sepatu yang hitam atau yang coklat, mau lewat jalan tikus atau jalan besar, mau makan di rumah atau di luar dan dimana, yang dekat atau yang jauh, yang murah atau yang mahal, dst ….. dst ….. Selama 24 jam dalam satu hari, hidup kita dipenuhi pilihan. Bahkan kita sudah disodori pilihan sejak jam alaram berbunyi di pagi hari, mau langsung bangun, menggeliat dan bermalas – malasan sebentar atau memencet tombol snooze dan meneruskan tidur sebentar lagi?.
Nely, teman kosku dullu, pernah bilang kalau hidup di kota besar seperti Jakarta itu, bikin kita jadi enggak punya banyak pilihan. Kita terpaksa ikut arus dan enggak punya kekuasaan untuk menentukan apa yang sebenarnya kita mau. Pilih ini salah, pilih itu salah. Mau naik mobil, bensin mahal, mau naik taksi lebih mahal lagi, mau naik bis, banyak copet dan tukang hipnotis. Mau jalan kaki, trotoar saja dijadikan tempat jualan kaki lima dan lajur tambahan illegal buat motor. Jadi enggak punya pilihan kan?. Hmm, pengertian yang agak salah tuh. Sebab kalau mengutip kalimat Miranda Priestley, si bos kejam di film The Devil Wears Prada, seringkali kita memakai alas an “enggak punya pilihan” , padahal sebenarnya kita sendiri yang memilih untuk enggak punya pilihan. See?. Dengan memutuskan ikut arus, kita sudah membuat pilihan!.
Intinya pilihan itu selalu ada. Jadi mestinya kalau kita sudah terbiasa bertemu dengan pilihan – pilihan, kita juga sudah terlatih untuk membuat keputusan kan?. Well, not really. Selalu saja ada kesulitan dalam membuat keputusan. Dari mulai keputusan kecil seperti memilih baju yang mana yang akan dibeli ( sehingga membutuhkan waktu berjam – jam di dalam mall ), sampai keputusan besar seperti memilih pasangan hidup. Pusing!.
Jujur saja, saya termasuk orang yang selalu kesulitan dalam mengambil keputusan. Kalau kata caca, sahabat saya, saya menderita sindroma anak bungsu karena terbiasa dibuatkan keputusan oleh kakak – kakakku, tapi menurutku kalau dipikir –pikir anak tengah juga mengalami kejepit di antara kakak dan adik, sehingga terbiasa mengalah pada keinginan sang kakak atau si adik lalu yang merasa anak sulung akan bilang, kalau kebanyakan keputusan mereka pun ditentukan berdasarkan rasa tanggung jawab sebagai anak tertua, bukan karena keinginan sendiri. Nah lho!. Jadi lebih baik teori urutan lahir itu kita kesampingkan dulu saja. Terlalu relative dan stereotip, karena tergantung pola asuh orangtua masing – masing.
Teman saya vera bercerita ada 2 orang pria mendekati dia, Keduanya katanya memenuhi kriteria yang dia gariskan dalam memilih pasangan hidup sehingga membuat dia bingung menentukan pilihan. Dia akhirnya memutuskan tidak memilih, melainkan berjalan dengan kedua – duanya saja untuk sementara waktu. Itulah yang menurut temenku caca sebagai menunda – nunda kebahagiaan. Tetapi akhirnya kata vera, dia lambat laun bisa melihat kalau pria yang pertama ternyata terlalu childish dan yang kedua terlalu metroseksual. Keputusan tidak memilih pun menyelamatkan dari salah memilih. Dan kata vera lagi dengan menunda dia jadi tahu kalau ternyata diantara pilihan – pilihan yang terbentang di depan dia,enggak ada yang pas. Dengan menunda jadi tahu apakah ada opsi yang lain atau tidak.
Tapi menurutku, ada banyak juga keputusan penting yang kita buat dalam hitungan menit, tidak bisa ditunda, tidak bisa dipikir – piker terlalu lama karena benar juga kata caca menunda – nunda kebahagiaan.
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa dibutuhkan kematangan kita pada saat memutuskan dan kesiapan kita menjalani konsekuensi apapun yang jadi buntutnya. Jadi disaat kita mengambil keputusan, kita sudah yakin dengan apa yang kita jalani. Kita sudah mempertimbangkan dan memperhitungkan baik buruknya, untung – ruginya. No turning back.
Nely, teman kosku dullu, pernah bilang kalau hidup di kota besar seperti Jakarta itu, bikin kita jadi enggak punya banyak pilihan. Kita terpaksa ikut arus dan enggak punya kekuasaan untuk menentukan apa yang sebenarnya kita mau. Pilih ini salah, pilih itu salah. Mau naik mobil, bensin mahal, mau naik taksi lebih mahal lagi, mau naik bis, banyak copet dan tukang hipnotis. Mau jalan kaki, trotoar saja dijadikan tempat jualan kaki lima dan lajur tambahan illegal buat motor. Jadi enggak punya pilihan kan?. Hmm, pengertian yang agak salah tuh. Sebab kalau mengutip kalimat Miranda Priestley, si bos kejam di film The Devil Wears Prada, seringkali kita memakai alas an “enggak punya pilihan” , padahal sebenarnya kita sendiri yang memilih untuk enggak punya pilihan. See?. Dengan memutuskan ikut arus, kita sudah membuat pilihan!.
Intinya pilihan itu selalu ada. Jadi mestinya kalau kita sudah terbiasa bertemu dengan pilihan – pilihan, kita juga sudah terlatih untuk membuat keputusan kan?. Well, not really. Selalu saja ada kesulitan dalam membuat keputusan. Dari mulai keputusan kecil seperti memilih baju yang mana yang akan dibeli ( sehingga membutuhkan waktu berjam – jam di dalam mall ), sampai keputusan besar seperti memilih pasangan hidup. Pusing!.
Jujur saja, saya termasuk orang yang selalu kesulitan dalam mengambil keputusan. Kalau kata caca, sahabat saya, saya menderita sindroma anak bungsu karena terbiasa dibuatkan keputusan oleh kakak – kakakku, tapi menurutku kalau dipikir –pikir anak tengah juga mengalami kejepit di antara kakak dan adik, sehingga terbiasa mengalah pada keinginan sang kakak atau si adik lalu yang merasa anak sulung akan bilang, kalau kebanyakan keputusan mereka pun ditentukan berdasarkan rasa tanggung jawab sebagai anak tertua, bukan karena keinginan sendiri. Nah lho!. Jadi lebih baik teori urutan lahir itu kita kesampingkan dulu saja. Terlalu relative dan stereotip, karena tergantung pola asuh orangtua masing – masing.
Teman saya vera bercerita ada 2 orang pria mendekati dia, Keduanya katanya memenuhi kriteria yang dia gariskan dalam memilih pasangan hidup sehingga membuat dia bingung menentukan pilihan. Dia akhirnya memutuskan tidak memilih, melainkan berjalan dengan kedua – duanya saja untuk sementara waktu. Itulah yang menurut temenku caca sebagai menunda – nunda kebahagiaan. Tetapi akhirnya kata vera, dia lambat laun bisa melihat kalau pria yang pertama ternyata terlalu childish dan yang kedua terlalu metroseksual. Keputusan tidak memilih pun menyelamatkan dari salah memilih. Dan kata vera lagi dengan menunda dia jadi tahu kalau ternyata diantara pilihan – pilihan yang terbentang di depan dia,enggak ada yang pas. Dengan menunda jadi tahu apakah ada opsi yang lain atau tidak.
Tapi menurutku, ada banyak juga keputusan penting yang kita buat dalam hitungan menit, tidak bisa ditunda, tidak bisa dipikir – piker terlalu lama karena benar juga kata caca menunda – nunda kebahagiaan.
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa dibutuhkan kematangan kita pada saat memutuskan dan kesiapan kita menjalani konsekuensi apapun yang jadi buntutnya. Jadi disaat kita mengambil keputusan, kita sudah yakin dengan apa yang kita jalani. Kita sudah mempertimbangkan dan memperhitungkan baik buruknya, untung – ruginya. No turning back.
Langganan:
Postingan (Atom)